Sabtu, 18 Februari 2012

tangan manis

mencoba buat sejarah...


bismilah.
kamerin sudah mendapatkan materi kkn dari berbagai dosen,alhamdulilah bisa mngikuti walaupun ngntuk berat..hee.sedikit nyatet yang penting buat bekal kkn, supaya gak kaget bertemu masyarakat disana.
besok tgl 19 masih diklat pembekalan kkn yang teakhir ini adalah harpan buat kedepan y lebih baik dilokasi kkn.
mencari lokasi Desa Padasuka Kec. Cibatu Kab. Garut. akhirnya ketemu juga dari blog anak unpad..makasi.
kelompok saya ada 10 orang, pria 3 jiwa sisa y wanita 7 jiwa. ditanya kenapa mereka ada yang pindah lokasi kknnya padahal untuk mencari kesenangan hanya ada pada diri kamu sendiri bukan dari teman sahabat.ini baru permula berkenalan dengan anak PGSD yang baru tatap muka, berbica bersama, n PDKT.hee padahal toz lami di kampus kelihat wajahnya.

Jumat, 03 Februari 2012

TQN suryalaya

Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah

Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah adalah perpaduan dari dua buah tarekat besar, yaitu Thariqah Qadiriyah dan Thariqah Naqsabandiyah. Pendiri tarekat baru ini adalah seorang Sufi Syaikh besar Masjid Al-Haram di Makkah al-Mukarramah bernama Syaikh Ahmad Khatib Ibn Abd.Ghaffar al-Sambasi al-Jawi (w.1878 M.). Beliau adalah seorang ulama besar dari Indonesia yang tinggal sampai akhir hayatnya di Makkah. Syaikh Ahmad Khatib adalah mursyid Thariqah Qadiriyah, di samping juga mursyid dalam Thariqah Naqsabandiyah. Tetapi ia hanya menyebutkan silsilah tarekatnya dari sanad Thariqah Qadiriyah saja. Sampai sekarang belum diketemukan secara pasti dari sanad mana beliau menerima bai'at Thariqah Naqsabandiyah.

Sebagai seorang mursyid yang kamil mukammil Syaikh Ahmad Khatib sebenarnya memiliki otoritas untuk membuat modifikasi tersendiri bagi tarekat yang dipimpinnya. Karena dalam tradisi Thariqah Qadiriyah memang ada kebebasan untuk itu bagi yang telah mempunyai derajat mursyid. Karena pada masanya telah jelas ada pusat penyebaran Thariqah Naqsabandiyah di kota suci Makkah maupun di Madinah, maka sangat dimungkinkan ia mendapat bai'at dari tarekat tersebut. Kemudian menggabungkan inti ajaran kedua tarekat tersebut, yaituThariqah Qadiriyah dan Thariqah Naqsabandiyah dan mengajarkannya kepada murid-muridnya, khususnya yang berasal dari Indonesia.

Penggabungan inti ajaran kedua tarekat tersebut karena pertimbangan logis dan strategis, bahwa kedua tarekat tersebut memiliki inti ajaran yang saling melengakapi, terutama jenis dzikir dan metodenya. Di samping keduanya memiliki kecenderungan yang sama, yaitu sama-sama menekankan pentingnya syari'at dan menentang faham Wihdatul Wujud. Thariqah Qadiriyah mengajarkan Dzikir Jahr Nafi Itsbat, sedangkan Thariqah Naqsabandiyah mengajarkan Dzikir Sirri Ism Dzat. Dengan penggabungan kedua jenis tersebut diharapkan para muridnya akan mencapai derajat kesufian yang lebih tinggi, dengan cara yang lebih mudah atau lebih efektif dan efisien. Dalam kitab Fath al-'Arifin, dinyatakan tarekat ini tidak hanya merupakan penggabungan dari dua tarekat tersebut. Tetapi merupakan penggabungan dan modifikasi berdasarkan ajaran lima tarekat, yaitu Tarekat Qadiriyah, Tarekat Anfasiyah, Junaidiyah, dan Tarekat Muwafaqah (Samaniyah). Karena yang diutamakan adalah ajaran Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah, maka tarekat tersebut diberi nama Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Disinyalir tarekat ini tidak berkembang di kawasan lain (selain kawasan Asia Tenggara).

Penamaan tarekat ini tidak terlepas dari sikap tawadlu' dan ta'dhim Syaikh Ahmad Khathib al-Sambasi terhadap pendiri kedua tarekat tersebut. Beliau tidak menisbatkan nama tarekat itu kepada namanya. Padahal kalau melihat modifikasi ajaran yang ada dan tatacara ritual tarekat itu, sebenarnya layak kalau ia disebut dengan nama Tarekat Khathibiyah atau Sambasiyah, karena memang tarekat ini adalah hasilijtihadnya.

Sebagai suatu mazhab dalam tasawuf, Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah memiliki ajaran yang diyakini kebenarannya, terutama dalam hal-hal kesufian. Beberapa ajaran yang merupakan pandangan para pengikut tarekat ini bertalian dengan masalah tarekat atau metode untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Metode tersebut diyakini paling efektif dan efisien. Karena ajaran dalam tarekat ini semuanya didasarkan pada Al-Qur'an, Al-Hadits, dan perkataan para 'ulama arifin dari kalangan Salafus shalihin.

Setidaknya ada empat ajaran pokok dalam tarekat ini, yaitu : tentang kesempurnaan suluk, tentang adab (etika), tentang dzikir, dan tentang murakabah.

cahaya tasawuf


Mengenal pengertian tasawuf:-


Zakaria Al-Ansari berkata: “Tasawuf adalah ilmu yang dengannya boleh mengetahui tentang pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs), memperbaiki budi pekerti serta pembangunan lahir dan batin, untuk memperolehi kebahagian yang abadi.”
Ahmad Zaruq berkata: “Tasawuf adalah ilmu yang bertujuan untuk memperbaiki hati dan memfokuskan hanya untuk Allah semata-mata segalanya. “Fikih adalah ilmu yang bertujuan untuk memperbaiki amal, memelihara segala peraturan dan menampakkan hikmah dari setiap hukum sedangkan ilmu tauhid adalah ilmu yang bertujuan untuk mewujudkan dalil-dalil dan menghiasi iman dengan keyakinan, sebagaimana ilmu kedoktoran untuk memelihara badan dan ilmu nahu untuk memelihara lisan.”
Imam Junaid berkata: “Tasawuf adalah berakhlak luhur dan meninggalkan semua akhlak tercela.”
Di antara ulama ada yang mengatakan bahawa tasawuf secara keseluruhannya adalah akhlak. Barangsiapa memberimu bekal dengan akhlak, maka dia telah memberimu bekal dengan tasawuf.
Abu Hassan Asy-Syadzili berkata: “Tasawuf adalah melatih jiwa untuk tekun beribadah dan kembali kepada hukum-hukum Allah SWT.”
Ibnu Ujaibah berkata: “Tasawuf adalah ilmu yang dengannya dapat diketahui cara untuk mencapai kepada Allah SWT, membersihkan batin dari semua akhlak tercela dan menghiasi diri dengan akhlak yang terpuji.  Awal tasawuf adalah ilmu ,pertengahannya adalah amal dan akhirnya adalah kurnia.”
Penulis Kasyf Azh-Zhunun mendefinasikan tasawuf sebagai ilmu yang dengannya diketahui cara manusia sempurna meniti jalan menuju kebahagian. Dia juga mendefinasikan tasawuf dalam syair berikut:
“Tasawuf adalah ilmu yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang mengetahui kebenaran. Dia tidak akan dikenali oleh orang yang tidak mengalaminya dan bagaimana mungkin orang buta dapat melihat cahaya.”
Dalam buku Qawaid Tasawwuf, Ahmad Zaruq mengatakan bahawa kata tasawuf telah didefinasikan dan ditafsirkan dari berbagai aspek, sehingga mencapai sekitar dua ribu definasi. Semua itu disebabkan kerana ketulusan untuk menghadapkan diri kepada Allah yang dicapai dengan berbagai cara.
Menurut Syeikh Abdul Qadir Isa, tiang penyangga tasawuf adalah penjernihan hati dari kotoran kebendaan dan asasnya adalah hubungan manusia dengan pencipta yang maha agung. Sufi adalah orang yang hati dan hubungan murni hanya untuk Allah sehingga Allah memberinya karamah. Subhanallah..
(Dari Kitab Hakikat Tasauf.(Syaikh Abdul Qadir Isa)


Berkata Syeikh Abdul Qadir Isa di dalam kitabnya Haqaiq Tasawuf mengenaimusuf-musuf tasawuf secara ringkasnya:
Di antara musuh-musuh tasawuf terdiri dari kalangan orentalis lagi zindiq serta para pengikutnya dan konco-konconya. Mereka telah disusun atur dan dilatih oleh golongan kafir yang jahat bagi mencela Islam. Mereka cuba memusnahkan pokok pangkal Islam dengan menimbulkan pelbagai keraguan serta menyebarkan fahaman-fahaman untuk memecahkan umat Islam. Mereka mempelajari Islam secara mendalam tetapi bertujuan untuk menyeleweng dan memusnahkan Islam. Mereka juga sentiasa memiliki sifat talam dua muka. Mereka juga mendakwa tasawuf diambil daripada Yahudi, Nasrani dan Buddha. Bermacam-macam tomahan celaan dilemparkan terhadap tokoh-tokoh ulama tasawuf.  Apa yang lebih mendukacitakan, terdapat segelintir orang Islam menggunapakai pandangan dan pendapat dari musuh-musuh Islam ini untuk mencela tasawuf secara keseluruhannya. Inikah yang dikatakan pejuang Islam yang sebenarnya?.
Di antara musuh-musuh tasawuf juga ialah mereka yang jahil dengan hakikat tasawuf Islam itu sendiri. Mereka tidak mempelajari daripada tokoh-tokoh ulama sufi secara jujur dan amanah serta tidak juga mengambil manfaat daripada ulama-ulama tasawuf yang ikhlas menyampaikan ilmu pengetahuan. Mereka cuba mengkaji sendiri kitab-kitab tasawuf sedangkan mereka tidak mempunyai asas dan tidak memahami maksud sebenar serta mereka juga tidak mengetahui tentang penyelewengan terhadap kitab-kitab tersebut oleh musuh-musuh tasawuf Islam. Maka akan timbullah pandangan negatif dan berburuk sangka terhadap tasawuf ini.